Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Fiktif

Berbagi Mimpi

"Kita putus saja, daripada kita terus bertengkar, putus nyambung.. mending kita putus aja, toh aku gak yakin kita sanggup jalanin hubungan jarak jauh.." Aku menatap Rio tanpa beban, tapi ku sembunyikan tanganku yang mengepal di saku jacketku. Dia tak perlu tahu perlu keberanian dan kekuatan yang sangat besar untuk bisa mengatur emosiku saat ini.Angin malam di musim hujan yang lembab membuatku bergidik. "Nad.." Kedua tangan Rio memegang bahuku, memaksaku menatap kedua matanya yang tampak lelah, lelah menghadapi drama yang sering ku buat selama ini. "Tunggu aku selesai bicara dulu" ku tampik kedua tangan Rio dipundakku. " Kamu tahu aku sayang kamu, tapi sayang aja gak cukup Rio. Ga cukup bikin hubungan kita kokoh. selain sayang harus ada rasa percaya satu sama lain, itu yang gak kita miliki selama ini" Rio nampak tidak sabar untuk mengakhiri drama ku malam ini. Mungkin dia pikir pembicaraan ini akan berakhir seperti yang sudah-sudah. tapi dia sa...

Love is in The Air

Love…love..love… Rasanya aku tak lagi berpijak di bumi. Aku tak lagi menghirup oksigen tapi rasanya aku menghirup cinta. Aku telah dilambungkan oleh perasaan mendebarkan yang disebut cinta oleh kebanyakan orang. Aku bisa melihat cupid-cupid tertawa cekikikan di sekitarku. Tapi sedetik kemudian aku sadar, aku memang tak lagi berpijak di bumi dalam arti sebenarnya. Aku terbang diatas lautan manusia yang sedang mengerubuti seseorang. “Farah.. jangan bercanda dong, Farah” Ben mengguncang tubuhku, tubuhku yang sedang terbujur di depan pintu masuk cafe dengan senyum yang masih menempel di wajahku. Tiba-tiba sebuah kesadaran menghampiriku, Ben mengungkapkan perasaannya padaku dengan bernyanyi di depan café yang sering kami kunjungi.  Dan pasti aku pingsan saking senangnya, karena sikap baik Ben padaku selama ini yang sering membuatku geer mati-matian bukan karena dia hanya menganggapku sahabat tapi karena dia juga menyimpan rasa yang sama denganku. Aaak… Bagaimana caranya aku...

Jangan Pergi Lagi

Aku tak pernah memikirkan lagi orang yang sudah melangkah keluar dari hidupku.  Bagiku masa lalu ada di belakang dan tak seharusnya diseret-seret menuju masa depan. Tapi  semua teoriku tersebut terpatahkan olehmu. Aku tak tahu bagaimana rasa ini masih ada meskipun kamu sudah melangkah keluar dari hidupku bertahun-tahun yang lalu. Kamu bukan cinta pertamaku, tapi entah kenapa mendengar namamu saja hatiku bergetar tak karuan. Aku sedang iseng mengunjungi pusat perbelenjaan saat ku dengar seseorang meneriakkan namamu. Tetap saja hatiku mencelos mendengarnya. Nama Raka tak hanya dimiliki olehmu tapi bagaimana bisa aku selalu berharap itu kamu. Dengan ragu aku menoleh pada sumber suara. Dan jantungku seperti berhenti berpacu, itu kamu. Aku mengerjapkan mataku dan melihat lagi ke arahmu, sesosok pria itu memang kamu. Tatapan kita bertemu. Aku membeku dan kamu masih diam ditempatmu. ---

A Choice

Ini hari terpenting dalam hidupku. Keputusan yang ku ambil hari ini akan mempengaruhi hidupku besok dan seterusnya. Sengaja aku datang lebih awal di sebuah café dimana kami biasa menghabiskan waktu berdua, berharap aku lebih bisa menguasai keadaan daripada seseorang yang ku tunggu kehadirannya. “Maaf telat Key” Gio mencium keningku, kebiasaannya yang ku maklumi dalam hubungan kami. Aku hanya tersenyum. Gio melambaikan tangan pada pramusaji dan menyebutkan minuman pesanannya, secangkir cappuccino. “Kamu bilang ada hal penting yang ingin kamu bicarain sama aku?” Mata Gio membulat penuh harap. Hatiku tercubit, nyeri.

Sebuah Prologue

Ehem.. *benerin jilbab*  Selamat datang kembali di blog yang sebulan lebih mati suri. mungkin ada yang menunggu saya posting kembali atau mungkin ada yang tidak sadar blog ini sudah lebih dari sebulan tak berbagi cerita lagi. Jadi ceritanya gini, saya lagi bikin Self Project buat nulis novel. Ini sedikit saya bagi prolognya. Mohon commentnya ya :)  Terima kasih.  -0o0- Ku pejamkan mata untuk benar-benar merasakan   rasa pahitnya menyebar diseluruh indera pencecapku. Sudah cangkir kedua dan rasanya masih sama. Pahit. Inderaku bahkan tak mencecap rasa manis sedikitpun. Spend all your time waiting For that second chance For a break that would make it okay There’s always some reason To feel not good enough And it’s hard at the end of the day I need some distraction Oh beautiful release Memories seep from my veins Let me be empty and weightless And maybe I’ll find some peace tonigh Sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Sarah McLach...

Perempuan dalam Mimpi [3]

Ku kerjapkan mata, untuk meyakinkan diriku sendiri dimana aku berpijak. Sekelilingku hanya pohon-pohon dan semak-semak. Aku pun tak dapat melihat langit karena tertutup rimbunnya daun pada ranting pohon yang menjulang tinggi. Sinar matahari menembus celah-celah dedaunan.  

Talking To The Moon

Bulan bulat sempurna. Mereka memanggilnya purnama. Seperti biasa, aku duduk diatas jendela kamarku. Aku tersenyum. Ku hirup aroma teh ku yang masih mengepul. “Apa kabar dia?” ku awali perbincangan malam ini. Ku dengar jawaban lirih, berbisik. Seolah ini adalah percakapan rahasia antara kami berdua. “Dia baik-baik saja, dia masih berusaha mencari, butuh waktu agak lama untuk mencapai tujuannya” Kusesap teh ku perlahan. Dia masih agak lama untuk sampai kesini. Mata-mataku sepertinya mengerti kekhawatiranku. “Tenanglah, kalau kau sanggup bertahan hingga kini. Agak lama yang ku maksud tak akan membuatmu kering menunggu” Aku meredam tawaku dalam sesapan teh keduaku. “Adakah yang lucu?” “Kau memang selalu mampu menghiburku” Gantian mata-mataku yang tersenyum. “Apakah dia pernah berbicara padamu juga?” “Tidak, aku tak akan bicara padanya. Aku mata-mata mu. Aku hanya berbicara padamu” “mereka tak membocorkan rahasia kita bukan?” ku lirik teman-temannya yang meny...

Perempuan dalam Mimpi [Episode 2]

Ku langkahkan kaki lebar-lebar. Takut pria asing yang menyapaku di kafe mengejarku.  Sore ini aku sengaja duduk-duduk sendirian di kafe yang sering ku kunjungi bersama teman-teman kerjaku dulu. Tapi rupanya duduk-duduk di smoking area ternyata tak aman. Tiba-tiba saja pria asing mendatangiku dan berkata bahwa aku adalah gadis yang sering ditemui dimimpi-mimpinya. Bagaimana bisa seorang pria asing mengatakan hal absurd seperti itu kepadaku yang sedang kalut, jelas jika setelahnya aku kabur ketakutan meninggalkannya. Ku harap pria tersebut bukan pasien yang kabur dari rumah sakit jiwa.

Cinta Tak Terucap - Ferry

source : gambar.co Aku telat. Sudah ku pacu motor ku dengan kecepatan maksimal. Tapi apa daya aku tinggal di Jakarta. Kecepatan maksimalku di jalan raya hanya 20 km/ jam tersendat-sendat karena macet yang luar biasa. Aku merasa gagal sebagai seorang sahabat. Sudah telat datang, aku tak mengabarinya lewat sms karena pulsaku tersisa Rp. 0,- untuk menelpon Tasya sejak semalam, memastikan dia baik-baik saja dalam perjalanannya ke Jakarta. Ku hela nafas panjang. Ferry teman Tama yang payah!

Untuk Kedua Kalinya

source : boxpicture.net Mencintai dalam diam sungguh menyedihkan. Begitulah kira-kira yang kurasakan tiap hari. Aku menahan diri agar jari-jariku tidak mengetik pesan singkat untukmu. Mencoba menstimulasi otakku untuk tak memikirkanmu. Memeluk erat hatiku agar ia tak berlari dalam tarikan magnet pesonamu. Aku belum pernah seperti ini sebelumnya. Iya, sebelumnya aku akan mengalah pada sebuah rasa. Membiarkannya tumbuh walaupun aku tahu pada akhirnya dia akan mati jua. Tapi denganmu berbeda, aku menahan diri untuk tidak jatuh cinta, ada sebuah peringatan yang tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata. Bukan karena kamu tak baik. Bukan, tapi aku tau jatuh cinta padamu akhirnya akan menambah luka saja. Karena kamu tak akan pernah memberikan hatimu sepenuhnya padaku. Setengahnya saja mungkin tidak. ---

Cinta Tak Terucap

Alunan music jazz mengalun ringan mengisi kesunyian antara aku dan seorang pria didepanku. Kuamati dia yang kini membuang pandangannya jauh entah kemana memalui jendela besar café yang sering kami datangi berdua. Air mukanya keruh, seperti ingin melampiaskan emosinya tapi tertahan oleh suatu hal. Aku menunggunya sabar, menunggu tumpahan emosinya yang bisa kapan saja tertuang melalui bibir tipisnya.

Always Be My Baby

We were as one babe For a moment in time And it seemed everlasting That you would always be mine ∞∞∞ Malam itu aku ke café langganan kita dan tak sengaja tatapan kita bertemu. Kau masih dibibir pintu tapi tiba-tiba kau berbalik begitu saja meninggalkan café.   Aku melihat sorot aneh dikedua matamu sebelum kau berpaling. Aku berharap itu sorot cemburu. Walaupun cemburu pada sepupu ku yang kuajak makan malam disitu. Hatiku bersorak ketika otakku mengambil kesimpulan absurd itu. Bagaimana kamu bisa cemburu padaku? Banyak pria-pria yang datang kepadamu setelah kau memutuskan untuk berpisah dariku. Aku menelponmu berpuluh-puluh kali tapi kau mengabaikanku. Sial, kau malah menonaktifkan ponselmu. ∞∞∞

Secangkir Kenangan #2

Courtesy ShutterStock.com “Aku besok mau ke Jogja” Jawabku singkat. Ku lempar pandanganku ke jendela. Tanganku sibuk mengaduk-aduk minuman di depanku. “Sudah malam, kamu aku antar pulang ya” Pria di depanku masih saja berkata lemah-lembut meski ku acuhkan sejak kami bertemu di café ini. Aku menggeleng. “Aku masih pengen disini” “Perlu aku temenin?” “Gak, kamu pulang duluan aja, rumahku kan dekat sini” “Kamu hati-hati ya, jangan pulang larut” Ku lemparkan senyum menenangkan agar dia segera beranjak meninggalkanku. Sebelum pergi pria itu merunduk lalu mengecup keningku singkat. Ku tenggelamkan wajahku pada kedua telapak tanganku. Seharusnya aku tak pernah membiarkan dia memasuki hidupku. Aku telah melukai perasaannya dengan tidak bisa membalas perasaannya. Seharusnya aku memberitahunya, bahwa hati ku telah lama ikut mati bersama kepergian Damar dan aku tak bisa mencintai pria manapun lagi. ---

Dancing Under The Rain

source : google Ku pandangi wajahnya yang terlelap, aku terhanyut dalam lamunan. Ku belai rambutnya kemudian dia menggeliat. “Pelor, bangun woy” kusembunyikan rasa gugupku pada teriakku. Dia hanya menggeliat kemudian menarik selimutnya menutupi kepala.

Seribu Barbie Untuk Dila #End

Sedikit banyak aku sudah menerima kedatangan Erwin dihidupku. Tapi bila mengingat Bapak entah kenapa rasa benci kepadanya rasanya tak pernah berkurang. Oke mungkin aku   sudah cukup dewasa untuk tidak menghindar dan lari dari masalah seperti yang ku lakukan dulu. “Ibu senang lihat kamu dan Erwin rukun La” kata ibu ketika menemaniku sarapan “Dila udah dewasa Bu, seperti permintaan ibu, Dila hanya menjaga sikap aja sama dia” “Jadi, kamu belum mau dijodohkan sama Erwin?” Air muka ibu terlihat kecewa “Dila nggak suka sama Erwin bu, Dila ingin menikah dengan orang yang Dila cintai” “Cinta bisa tumbuh sejalan dengan berjalannya waktu Dila” Aku menggengam tangan ibu. “Biar Dila jalanin dulu ya Bu, Dila belum ingin menikah dan berpisah dengan ibu” Ibu membalas genggamanku dan tersenyum hangat. Akupun beranjak untuk memeluk Ibu.

Kita dan Dia

“Untuk apa kita pertahankan semua ini kalau akhirnya kita tetap akan berpisah dan masing-masing dari kita akan terluka lebih parah?” Kulihat tatapanmu nanar kemudian ku keluarkan kata-kata pamungkasku. “Lebih baik kita sudahi semua ini, aku lelah Mas” Ada kilat kesedihan dan kekecewaan yang terpancar dimatamu. Membuat hatiku semakin ngilu. “Aku mencintaimu Ra, tapi bila cinta ini menyakitimu apa yang bisa ku lakukan selain menuruti permintaanmu?” “Lebih baik kau pulang sekarang” Aku duduk membelakangimu. Ke dengar langkah kakimu menjauh dan suara pintu yang kau tutup perlahan. Tubuhku bergetar. Aku menangis semalaman. ---

Secangkir Kenangan

  Sekarang aku disini, seperti melakukan pengulangan perjalanan kita ke Jogja satu tahun yang lalu. Tapi kali ini bukan diwarnai tawa dan pelukan. Hanya air mata dan sepi yang menyelimutiku sepanjang perjalanan. Dan yang jelas tak ada kamu disampingku.

Seribu Barbie untuk Dila #2

Erwin kembali lagi dalam hidupku, pria yang sangat ku benci karena dialah penyebab Bapak meninggalkanku dan Ibu untuk selamanya. Dia kembali karena perjodohan yang direncanakan oleh Bu Harjo dan Ibu. --- 

Bermimpilah...

“Jangan suka bercita-cita tinggi, cita-cita tinggi Cuma punya orang yang beruang, masuk kuliah itu berapa juta, duitnya dari mana? eling ndug Ibu mu itu Cuma buruh nyuci, kalau kamu mau nerusin sekolah lagi apa ndak kasihan sama Ibumu, ga isitirahat dan terbebani sama biaya kuliah kamu nantinya yang mahal, mbok ya kamu kerja saja, biar ibu mu nggak terlalu kerja keras, bisa istirahat, kamu dapat duit, dapet barokah surga juga bisa bantu-bantu ibu kamu”

Seribu Barbie Untuk Dila

mike tagle photography “Dijodohkan?” Alisku bertemu, dahiku berkerut-kerut. Oh please, segitu desperate-nya kah Ibu memandangku? Oke, aku memang… ku akui aku memang sudah melajang selama 3 tahun. Tak pernah terlihat menggandeng pria manapun dalam 3 tahun ini. Tapi dijodohkan? Itu kata-kata paling kuno yang pernah ku kenal. Ini bukan lagi jaman Siti Nurbaya. Aku menghirup nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan bicara. “Dengan siapa aku dijodohkan Bu?” aku mencoba menahan intonasi suaraku agar tetap terkontrol. “kamu masih ingat sama Bu Harjo?”