We were as one babe For a moment in time And it seemed everlasting That you would always be mine ∞∞∞ Malam itu aku ke café langganan kita dan tak sengaja tatapan kita bertemu. Kau masih dibibir pintu tapi tiba-tiba kau berbalik begitu saja meninggalkan café. Aku melihat sorot aneh dikedua matamu sebelum kau berpaling. Aku berharap itu sorot cemburu. Walaupun cemburu pada sepupu ku yang kuajak makan malam disitu. Hatiku bersorak ketika otakku mengambil kesimpulan absurd itu. Bagaimana kamu bisa cemburu padaku? Banyak pria-pria yang datang kepadamu setelah kau memutuskan untuk berpisah dariku. Aku menelponmu berpuluh-puluh kali tapi kau mengabaikanku. Sial, kau malah menonaktifkan ponselmu. ∞∞∞
A Journal for My Lousy Memory.