Skip to main content

Posts

Pembuka 2016

Sepertinya aku rindu menulis. Bukan menulis untuk orang lain tapi untuk diriku sendiri. Cerita hari-hari istimewa yang mungkin akan aku lupakan detailnya suatu hari nanti di masa depan. Aku bukan pengingat yang baik. Aku hanya mengingat hal-hal random yang kadang ku pikir tidak penting sama sekali, dan kadang hal yang paling istimewa aku lupakan sama sekali detailnya. Jadi, aku perlu sebuah pengingat. Dan sebuah tulisan disini mungkin akan sangat berguna suatu saat di masa depan. Tahun lalu, aku menulis aku telah membulatkan tekad untuk resign dari kantor, tapi hingga pertengahan Mei ini aku masih di sini, bertahan di kantor ini. Tidak ada yang berubah dari rutinitas kantor. Aku berusaha sebaik-baiknya, kadang jenuh itu datang tapi sudah tak sesering dulu. Pikiran untuk kembali rumah yang tahun lalu menghantui hari-hari ku malah membuatku seram saat ini. Aku tidak akan bisa bertahan di rumah, saat ini aku ingin jauh dari rumah sementara waktu. Akan aku ceritakan detailnya nanti. Aku...

Berbagi Mimpi - 2

Bagiku yang tak pernah terlalu dekat dengan orang-orang, kehadiran Nadia serasa seperti oase di padang gurun. Berkat Nadia, aku memiliki keberanian untuk ikut eskul musik di sekolah hingga akhirnya diangkat sebagai vokalis tetap band sekolah. Aku yang nggak pernah berteman dengan siapa-siapa tentu susah mengungkapkan apa yang ku rasakan pada orang-orang, seperti orang introvert pada umumnya, tapi karena Nadia aku belajar sedikit demi sedikit untuk memperlihatkan dan mencurahkan perasaanku. Tapi nampaknya Nadia tak sabar menghadapi hatiku yang terlalu lambat belajar mengungkapkan perasaan. Aku dan Nadia berpacaran karena Nadia lah orang pertama yang mengungkapkan perasaannya padaku, tapi karena itulah Nadia tak pernah yakin aku menerima perasaannya karena aku juga memiliki rasa yang sama untuknya. Nadia selalu berpikir cintanya bertepuk sebelah tangan karena aku tak pernah memperlihatkan emosiku dalam hubungan kami. Aku terlalu datar menghadapi drama yang sengaja dia buat. Dia salah ka...

Ikhtisar 2015

Tak terasa penghujung tahun tinggal sejengkal lagi.Ada yang telah dicapai, ada yang harus pergi dan belajar merelakan (lagi) dan ada keputusan besar yang harus diambil. Setahun ini otakku rasanya penuh sekali, saat ada yang ingin dicurahkan lewat tulisan, banyak kata yang berhamburan keluar tak berurutan, semua tulisan jadinya malah random. Awal tahun ini, aku diwisuda tepat pada hari sabtu tanggal 17 Januari 2015. Perjalanan menuju taman mini, tempat wisuda, tidak semulus yang ku harapkan. Mobil yang kami sewa menyerempet pengendara motor. Karena harus bolak-balik dari puskesmas ke rumah sakit besar aku baru sampai taman mini saat acara sudah di mulai. beruntung, fakultasku belum mendapat giliran maju untuk pelantikan. Semua teman kantor datang, sayang belum ada teman istimewa yang bisa datang (iya, ini ngarep T_T) dan dapat buket bunga tulip yang didamba-damba dari bos tercinta.

Berbagi Mimpi

"Kita putus saja, daripada kita terus bertengkar, putus nyambung.. mending kita putus aja, toh aku gak yakin kita sanggup jalanin hubungan jarak jauh.." Aku menatap Rio tanpa beban, tapi ku sembunyikan tanganku yang mengepal di saku jacketku. Dia tak perlu tahu perlu keberanian dan kekuatan yang sangat besar untuk bisa mengatur emosiku saat ini.Angin malam di musim hujan yang lembab membuatku bergidik. "Nad.." Kedua tangan Rio memegang bahuku, memaksaku menatap kedua matanya yang tampak lelah, lelah menghadapi drama yang sering ku buat selama ini. "Tunggu aku selesai bicara dulu" ku tampik kedua tangan Rio dipundakku. " Kamu tahu aku sayang kamu, tapi sayang aja gak cukup Rio. Ga cukup bikin hubungan kita kokoh. selain sayang harus ada rasa percaya satu sama lain, itu yang gak kita miliki selama ini" Rio nampak tidak sabar untuk mengakhiri drama ku malam ini. Mungkin dia pikir pembicaraan ini akan berakhir seperti yang sudah-sudah. tapi dia sa...

Aku Masih Kalah

Apakah begini rasanya dicampakkan? Seperti tebu yang telah habis dihisap manisnya? Kamu tidak bisa seperti itu padaku, man! Aku terkikik geli mendegar joke teman pria baruku, padahal setengah mati aku tidak ingin tertawa. Aku melirikmu berharap melihat cemburu di matamu tapi kau malah buang muka saat aku memergokimu sedang menatapku. 1-0, man! Aku tak akan membuatmu merasa menang. Pria di depanku rupanya mulai membicarakan hal lain, diam-diam dia menggenggam tanganku yang terkepal diatas meja. “I love the way you laugh” Aku memasang muka malu-malu khas abege, agar pria di depanku tetap melanjutkan gombalannya. Aku kembali melihat ke arahmu. Oh tidak, siapa wanita yang sedang cipika-cipiki dengan kamu? Apakah dia yang membuatmu mencampakanku? Darahku naik ke ubun-ubun. “Aku pulang” aku beranjak meninggalkan pria di depanku kebingungan. Masih saja aku belum bisa mengalahkanmu karena rasa itu masih ada. Aku masih cemburu. Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti pro...

Love is in The Air

Love…love..love… Rasanya aku tak lagi berpijak di bumi. Aku tak lagi menghirup oksigen tapi rasanya aku menghirup cinta. Aku telah dilambungkan oleh perasaan mendebarkan yang disebut cinta oleh kebanyakan orang. Aku bisa melihat cupid-cupid tertawa cekikikan di sekitarku. Tapi sedetik kemudian aku sadar, aku memang tak lagi berpijak di bumi dalam arti sebenarnya. Aku terbang diatas lautan manusia yang sedang mengerubuti seseorang. “Farah.. jangan bercanda dong, Farah” Ben mengguncang tubuhku, tubuhku yang sedang terbujur di depan pintu masuk cafe dengan senyum yang masih menempel di wajahku. Tiba-tiba sebuah kesadaran menghampiriku, Ben mengungkapkan perasaannya padaku dengan bernyanyi di depan cafĂ© yang sering kami kunjungi.  Dan pasti aku pingsan saking senangnya, karena sikap baik Ben padaku selama ini yang sering membuatku geer mati-matian bukan karena dia hanya menganggapku sahabat tapi karena dia juga menyimpan rasa yang sama denganku. Aaak… Bagaimana caranya aku...

Jangan Pergi Lagi

Aku tak pernah memikirkan lagi orang yang sudah melangkah keluar dari hidupku.  Bagiku masa lalu ada di belakang dan tak seharusnya diseret-seret menuju masa depan. Tapi  semua teoriku tersebut terpatahkan olehmu. Aku tak tahu bagaimana rasa ini masih ada meskipun kamu sudah melangkah keluar dari hidupku bertahun-tahun yang lalu. Kamu bukan cinta pertamaku, tapi entah kenapa mendengar namamu saja hatiku bergetar tak karuan. Aku sedang iseng mengunjungi pusat perbelenjaan saat ku dengar seseorang meneriakkan namamu. Tetap saja hatiku mencelos mendengarnya. Nama Raka tak hanya dimiliki olehmu tapi bagaimana bisa aku selalu berharap itu kamu. Dengan ragu aku menoleh pada sumber suara. Dan jantungku seperti berhenti berpacu, itu kamu. Aku mengerjapkan mataku dan melihat lagi ke arahmu, sesosok pria itu memang kamu. Tatapan kita bertemu. Aku membeku dan kamu masih diam ditempatmu. ---