Kulirik kalender dimeja kerjaku. Kuhembuskan nafas untuk sedikit mengurangi beban didada. Sesak rasanya disini, dihati ini. Tanggal pernikahan itu semakin dekat dan aku semakin gelisah. Tentu itu bukan tanggal pernikahanku. Boro-boro menikah, bayangan calon suami saja tak ada alias lagi jomblo. Tapi menikah belum menjadi prioritasku sekarang. Aku masih 20 tahun dan masih banyak mimpi dan cita-cita yang belum aku wujudkan. Sebenarnya tidak penting siapa yang akan menikah hari itu, sungguh sangat tidak penting untukku. Tapi orang yang mengundangku dan memaksaku datang yang membuatku kepikiran beberapa hari ini. Baiklah, akan kuperjelas supaya kalian tidak bertanya-tanya siapa yang akan menikah. Seminggu yang lalu aku mendapat telpon dari Ayahku yang mengabarkan bahwa anak dari istri keduanya akan menikah. Aku tidak mengiyakan atau menolak undangan dari ayahku. Aku hanya bilang akan sangat sibuk minggu-minggu ini. Beliau bersikukuh agar aku tetap datang. Katanya ...
A Journal for My Lousy Memory.