Aku tak habis pikir. Setan apa yang merasukiku dulu sehingga aku mantap memilih jurusan Bahasa dan mengacuhkan nasihat ibuku untuk masuk Pendidikan Matematika. Sudah 2 semester aku menjalani kuliahku. Dan aku masih keteteran membagi waktu antara pekerjaan dan kuliahku. Sekarang aku sendiri yang kelabakan. Belajar sesuatu dari nol lagi. Aku terngiang-ngiang obrolanku dengan sahabatku beberapa waktu. “Seharusnya kamu pilih jurusan yang sudah agak kamu kuasai Dev, jadi seumpamanya kamu udah punya nilai kemampuan awal 5 dijurusan itu, setelah lulus nanti nilai kamu bisa nambah jadi 8 atau 9 kalau kamu ambil jurusan yang belum sama sekali kamu kuasai ibarat kata nilai awal kamu nol dan kalo lulus Cuma bisa dapet 5 paling tinggi. Kamu harus tahu minat dan bakat kamu dibidang apa” “sepertinya memang salah jurusan nih akunya” kataku lemas “kamu harus belajar ekstra keras mulai sekarang. Tetep semangat!” kata Nila menyemangati. Tapi hatiku sudah mulai bimbang. ...
A Journal for My Lousy Memory.